Senin, 06 Januari 2014

In-House Training

 

Untuk Event Organizer yang ingin bekerjasama menyelenggarakan Workshop ini
silahkan email ke : bicaramenyenangkan@yahoo.com

Kamis, 26 September 2013

Dahsyatnya Problem dan Ajaibnya Tantangan


There’s no life without problem but there’s no problem without solution. Statemen ini idealnya harus dilihat secara utuh dan bukan setengah-setengah. Namun kenyataannya tidaklah demikian, kebanyakan manusia justru melihat hidup ini penuh dengan masalah. Lepas dari satu masalah maka dia akan berhadapan dengan masalah berikutnya, demikianlah seterusnya hingga sepanjang hidupnya dia hanya bergelut dengan masalah.

Demikianlah persepsi orang kebanyakan dalam merespon sesuatu yang menghambat dirinya dalam bertujuan, mereka selalu melihatnya sebagai masalah. Si A yang ingin memiliki mobil baru menjadi stress karena tidak punya uang untuk membelinya, ini menjadi masalah baginya. Si B yang memiliki banyak uang dan banyak mobil juga bermasalah dengan istrinya yang menurutnya terlalu cerewet dan boros. Si C yang memiliki banyak uang, beberapa mobil dan istri yang baik, merasa tertekan dengan penyakit yang terus menderanya.

Inilah fenomena orang kebanyakan, mereka kehilangan kesempatan yang besar untuk menikmati hidup, kehilangan peluang untuk meningkatkan kualitas dirinya.  Tenaga, pikiran dan gairah mereka sudah habis terkuras untuk mengatasi masalah demi masalah. Ujung-ujungnya mereka hanya bisa melarikan diri dari masalah dengan mengejar kenikmatan semu yang hanya sementara.

Sebaliknya. Orang-orang yang memahami statemen diawal secara utuh, mereka melihat apa yang oleh kebanyakan orang disebut sebagai masalah, adalah tantangan yang membangkitkan semangat mereka untuk menghadapinya. Mereka menikmati setiap prosesnya sebagai bagian dari proses pembelajaran. Bagi mereka tidak ada kata gagal, yang ada adalah pembelajaran.

Problem atau tantangan, ini hanyalah persoalan cara pandang. Satu hal bisa dilihat sebagai problem  atau sebagai tantangan. Perbedaan cara pandang inilah yang kemudian melahirkan sikap yang berbeda dalam meresponnya dan hasil yang berbeda pada akhirnya.

Begitu anda melihat sesuatu sebagai problem, ibaratnya anda tengah membunyikan alarm kebakaran dalam diri anda. Anda merasa dalam bahaya besar dan berjuang keras dengan segala peralatan anti kebakaran untuk memadamkannnya. Makin besar apinya, maka makin tinggi tingkat stress dan makin banyak air atau tabung pemadam yang anda perlukan. Beitu api selsai dipadamkan anda kemudian tertidur pulas karena terlepas dari ketegangan dan akibat kelelahan.

Melihat sesuatu sebagai tantangan, ibarat mengangkat bendera start dan anda siap melaju dengan semua kekuatan yang ada pada diri anda untuk sampai ke garis finish. Semua rintangan anda hadapi dengan semangat, bila terjatuh anda bangkit lagi dan terus maju sampai ke garis finish. Anda kelelahan? Betul, tapi sudah memiliki pengetahuan dan pengalaman baru sebagai pelajaran untuk menghadapi lomba yang jauh lebih menantang.

Orang-orang besar yang anda kenal namanya, baik secara langsung atau tidak, adalah mereka yang berhasil mengatasi tantangan demi tantangan tanpa mengenal putus asa. Bukan orang-orang bermasalah karena hidupnya kebanyakan problem.

Sabtu, 31 Agustus 2013

Rehat Sejenak dengan Cerita Lucu


Cerita ini saya ambil dari beberapa sumber di internet, sekedar rehat sejenak dari hiruk -pikuk kehidupan yang mungkin agak menegangkan, hehehe
----


Dalam kelas baru murid sekolah dasar kelas 1. Seperti biasa terjadi kenal mengenal antara guru dan murid.
Guru : “Siapa nama kamu?” Murid : “Amelia”
Guru : “Kalau ibu kamu siapa?” Murid : “Mama”
Guru : “Maksud ibu guru, nama Ibu kamu” 
Murid : “Iya , Mama”
Guru : “Okelah, sekarang bagaimana Ayah kamu panggil Ibu kamu?” 
Murid : “Eh, monyong”
----------------------
Ini merupakan percakapan antara dokter dengan seorang pasien bernama Gilang yang kena penyakit diare.
Dokter : “Sakit apa,…?”
Gilang : “Anu dok,… mual-mual dan muntah-muntah.”
Dokter : “Buang air besarnya bagaimana,…?”
Gilang : “Seperti biasa dok, jongkok.”
-------------------
Seorang lelaki dengan tergesa-gesa dan terburu-buru menyerobot masuk ke ruang bersalin, dan beberapa saat kemudian lelaki itu tampak keluar didorong memakai kursi roda oleh seorang suster karena pingsan. Sarman heran kenapa lelaki ini, karena penasaran dia segera menghapiri beberapa dokter yang ada di ruang bersalin.
Sarman bertanya, “dok, boleh tahu kenapa lelaki yang baru datang tadi tiba tiba pingsan?”
Dengan tenang si dokter menjawab, “Oh itu dia terburu-buru datang kesini karena isterinya akan segera melahirkan, tapi dia lupa sesuatu,”
“Lupa apa, dok?” tanya Sarman lagi.
“Dia lupa membawa istrinya.” kata dokter.  :-/
----------------------------------------
Karena mendapat THR banyak, Inem dateng dari desa untuk liburan di Jakarta. Kemudian masuk Hotel bintang 5 dan pesan 1 kamar.

Lalu dia diantar Room Boy yang membawa kopernya menuju kamarnya. Setelah pintu tertutup, Inem kaget dan marah-marah ke Room Boy,

"Hey anak muda!! Aku emang orang kampung, tapi jangan dikira aku gak bisa bayar sewa kamar hotel mewah ini ya! Ini bukan kamar yang aku pesan. Kamar ini sempit, sumpek, tidak ada TV, tempat tidur, kamar mandi..."

Jawab Room Boy, "Maaf bu, kita masih di LIFT."

----------------------------------------

Saat Presiden dan rombongan melakukan kunjungan ke sebuah pasar, beliau bertanya pada ibu tua penjual kue,

Bpk : "Sudah berapa lama jualan kue?"
Ibu : "Sudah hampir 30 tahun."
Bpk : "Terus anak ibu mana, kenapa tidak ada yang bantu?"
Ibu : "Anak saya ada 4, yang ke-1 di KPK, ke-2 di POLDA, ke-3 di Kejaksaan dan yang ke-4 di DPR, jadi mereka sibuk sekali pak..."

Bapak Presiden kemudian menggeleng-gelengkan kepala karena kagum... Lalu, berbicara kesemua hadirin yang menyertai beliau,

"Meskipun hanya jualan kue, ibu ini bisa menjadikan anaknya sukses dan jujur tidak korupsi... karena kalau mereka korupsi, pasti kehidupan Ibu ini sudah sejahtera dan tinggal dirumah mewah..."

Bpk : "Apa jabatan anak di POLDA, KPK, KEJAKSAAN dan DPR?"
Ibu : "Sama... jualan kue juga..."

Rabu, 28 Agustus 2013

Ayo Ikut Konvensi


Saat ini media tengah sibuk menyoroti para tokoh partai, pengusaha, akademisi, menteri dan purnawirawan jenderal yang akan mengikuti konvensi calon presiden. Mereka adalah orang-orang yang merasa dirinya pantas dan atau dianggap pantas untuk memimpin negeri ini. 

Peserta konvensi ini nantinya akan berkampanye untuk membuktikan kepada masyarakat bahwa merekalah yang paling pantas untuk dipilih. Jadi sepanjang masa kampanye ini kita akan disuguhkan dengan wajah-wajah yang penuh senyum, sikap yang ramah, tutur kata yang bijak dan santun, kedekatan dan keberpihakan pada rakyat kecil serta akan ada demonstrasi kecerdasan dan pemahaman yang mendalam terhadap permasalahan bangsa.

Andapun kalau merasa pantas, gak perlu ragu untuk ikutan konvensi. Siapa tahu dewi Fortuna lagi berpihak pada anda, atau tanpa anda sadari ternyata andalah Satria piningit yang telah lama dinanti-nanti. Memangnya hanya para tokoh diatas saja yang pantas untuk jadi presiden? Hehehe…

Terus terang saya serius mengajak anda dengan judul tulisan ini, Ayo Ikut Konvensi. Disinilah kita bisa jujur mengukur diri kita apakah kita memang pantas atau sekedar merasa pantas untuk jadi pemimpin, pengayom serta suri tauladan dilingkungan kita. 

Lewat konvensi, integritas anda dipertaruhkan. Kesesuaian bicara dan tindakan anda akan diuji oleh waktu. Seseorang yang hari ini begitu baik, belum tentu baik dimasa datang, demikian pula sebaliknya, orang yang hari ini kita anggap buruk belum tentu buruk pada akhirnya.

Ini sih versi saya saja, karena buat saya hidup ini adalah konvensi. Sepanjang hidup kita akan terus ”berkampanye” untuk menjadi pribadi yang pantas, pribadi yang terpilih baik dalam pandangan manusia terlebih lagi dalam pandangan Sang Pencipta.

Memang tidak semua orang mau ikut dalam konvensi, karena ini bukan ajang coba-coba dan pencitraan, tapi kalau anda merasa pantas dan dapat membuktikan kepantasan itu, ayo ikut konvensi.