Klik disini untuk melihat atau mendownload Proposal
Senin, 24 Februari 2014
Senin, 06 Januari 2014
In-House Training
Untuk Event Organizer yang ingin bekerjasama menyelenggarakan Workshop ini
silahkan email ke : bicaramenyenangkan@yahoo.com
Kamis, 26 September 2013
Dahsyatnya Problem dan Ajaibnya Tantangan
There’s no life without problem but there’s no problem
without solution. Statemen ini idealnya harus dilihat secara utuh dan bukan
setengah-setengah. Namun kenyataannya tidaklah demikian, kebanyakan manusia justru
melihat hidup ini penuh dengan masalah. Lepas dari satu masalah maka dia akan
berhadapan dengan masalah berikutnya, demikianlah seterusnya hingga sepanjang
hidupnya dia hanya bergelut dengan masalah.
Demikianlah persepsi orang kebanyakan dalam merespon sesuatu
yang menghambat dirinya dalam bertujuan, mereka selalu melihatnya sebagai
masalah. Si A yang ingin memiliki mobil baru menjadi stress karena tidak punya
uang untuk membelinya, ini menjadi masalah baginya. Si B yang memiliki banyak
uang dan banyak mobil juga bermasalah dengan istrinya yang menurutnya terlalu cerewet
dan boros. Si C yang memiliki banyak uang, beberapa mobil dan istri yang baik,
merasa tertekan dengan penyakit yang terus menderanya.
Inilah fenomena orang kebanyakan, mereka kehilangan
kesempatan yang besar untuk menikmati hidup, kehilangan peluang untuk
meningkatkan kualitas dirinya. Tenaga, pikiran
dan gairah mereka sudah habis terkuras untuk mengatasi masalah demi masalah. Ujung-ujungnya
mereka hanya bisa melarikan diri dari masalah dengan mengejar kenikmatan semu
yang hanya sementara.
Sebaliknya. Orang-orang yang memahami statemen diawal secara
utuh, mereka melihat apa yang oleh kebanyakan orang disebut sebagai masalah,
adalah tantangan yang membangkitkan semangat mereka untuk menghadapinya. Mereka
menikmati setiap prosesnya sebagai bagian dari proses pembelajaran. Bagi mereka
tidak ada kata gagal, yang ada adalah pembelajaran.
Problem atau tantangan, ini hanyalah persoalan cara pandang.
Satu hal bisa dilihat sebagai problem
atau sebagai tantangan. Perbedaan cara pandang inilah yang kemudian melahirkan
sikap yang berbeda dalam meresponnya dan hasil yang berbeda pada akhirnya.
Begitu anda melihat sesuatu sebagai problem, ibaratnya anda
tengah membunyikan alarm kebakaran dalam diri anda. Anda merasa dalam bahaya
besar dan berjuang keras dengan segala peralatan anti kebakaran untuk
memadamkannnya. Makin besar apinya, maka makin tinggi tingkat stress dan makin
banyak air atau tabung pemadam yang anda perlukan. Beitu api selsai dipadamkan
anda kemudian tertidur pulas karena terlepas dari ketegangan dan akibat
kelelahan.
Melihat sesuatu sebagai tantangan, ibarat mengangkat bendera
start dan anda siap melaju dengan semua kekuatan yang ada pada diri anda untuk
sampai ke garis finish. Semua rintangan anda hadapi dengan semangat, bila
terjatuh anda bangkit lagi dan terus maju sampai ke garis finish. Anda kelelahan?
Betul, tapi sudah memiliki pengetahuan dan pengalaman baru sebagai pelajaran untuk
menghadapi lomba yang jauh lebih menantang.
Orang-orang besar yang anda kenal namanya, baik secara
langsung atau tidak, adalah mereka yang berhasil mengatasi tantangan
demi tantangan tanpa mengenal putus asa. Bukan orang-orang bermasalah karena
hidupnya kebanyakan problem.
Sabtu, 31 Agustus 2013
Rehat Sejenak dengan Cerita Lucu
Cerita ini saya ambil dari beberapa
sumber di internet, sekedar rehat sejenak dari hiruk -pikuk kehidupan yang
mungkin agak menegangkan, hehehe
----
Dalam kelas baru murid sekolah dasar
kelas 1. Seperti biasa terjadi kenal mengenal antara guru dan murid.
Guru : “Siapa nama kamu?” Murid :
“Amelia”
Guru : “Kalau ibu kamu siapa?” Murid :
“Mama”
Guru : “Maksud ibu guru, nama Ibu
kamu”
Murid : “Iya , Mama”
Guru : “Okelah, sekarang bagaimana
Ayah kamu panggil Ibu kamu?”
Murid : “Eh, monyong”
----------------------
Ini merupakan percakapan antara dokter
dengan seorang pasien bernama Gilang yang kena penyakit diare.
Dokter : “Sakit apa,…?”
Gilang : “Anu dok,… mual-mual dan
muntah-muntah.”
Dokter : “Buang air besarnya
bagaimana,…?”
Gilang : “Seperti biasa dok, jongkok.”
-------------------
Seorang lelaki dengan tergesa-gesa dan
terburu-buru menyerobot masuk ke ruang bersalin, dan beberapa saat kemudian
lelaki itu tampak keluar didorong memakai kursi roda oleh seorang suster karena
pingsan. Sarman heran kenapa lelaki ini, karena penasaran dia segera menghapiri
beberapa dokter yang ada di ruang bersalin.
Sarman bertanya, “dok, boleh tahu
kenapa lelaki yang baru datang tadi tiba tiba pingsan?”
Dengan tenang si dokter menjawab, “Oh
itu dia terburu-buru datang kesini karena isterinya akan segera melahirkan,
tapi dia lupa sesuatu,”
“Lupa apa, dok?” tanya Sarman lagi.
“Dia lupa membawa istrinya.” kata dokter. :-/
----------------------------------------
Karena mendapat
THR banyak, Inem dateng dari desa untuk liburan di Jakarta. Kemudian masuk
Hotel bintang 5 dan pesan 1 kamar.
Lalu dia diantar Room Boy yang membawa kopernya menuju kamarnya. Setelah pintu tertutup, Inem kaget dan marah-marah ke Room Boy,
"Hey anak muda!! Aku emang orang kampung, tapi jangan dikira aku gak bisa bayar sewa kamar hotel mewah ini ya! Ini bukan kamar yang aku pesan. Kamar ini sempit, sumpek, tidak ada TV, tempat tidur, kamar mandi..."
Jawab Room Boy, "Maaf bu, kita masih di LIFT."
Lalu dia diantar Room Boy yang membawa kopernya menuju kamarnya. Setelah pintu tertutup, Inem kaget dan marah-marah ke Room Boy,
"Hey anak muda!! Aku emang orang kampung, tapi jangan dikira aku gak bisa bayar sewa kamar hotel mewah ini ya! Ini bukan kamar yang aku pesan. Kamar ini sempit, sumpek, tidak ada TV, tempat tidur, kamar mandi..."
Jawab Room Boy, "Maaf bu, kita masih di LIFT."
----------------------------------------
Saat Presiden dan
rombongan melakukan kunjungan ke sebuah pasar, beliau bertanya pada ibu tua
penjual kue,
Bpk : "Sudah berapa lama jualan kue?"
Ibu : "Sudah hampir 30 tahun."
Bpk : "Terus anak ibu mana, kenapa tidak ada yang bantu?"
Ibu : "Anak saya ada 4, yang ke-1 di KPK, ke-2 di POLDA, ke-3 di Kejaksaan dan yang ke-4 di DPR, jadi mereka sibuk sekali pak..."
Bapak Presiden kemudian menggeleng-gelengkan kepala karena kagum... Lalu, berbicara kesemua hadirin yang menyertai beliau,
"Meskipun hanya jualan kue, ibu ini bisa menjadikan anaknya sukses dan jujur tidak korupsi... karena kalau mereka korupsi, pasti kehidupan Ibu ini sudah sejahtera dan tinggal dirumah mewah..."
Bpk : "Apa jabatan anak di POLDA, KPK, KEJAKSAAN dan DPR?"
Ibu : "Sama... jualan kue juga..."
Bpk : "Sudah berapa lama jualan kue?"
Ibu : "Sudah hampir 30 tahun."
Bpk : "Terus anak ibu mana, kenapa tidak ada yang bantu?"
Ibu : "Anak saya ada 4, yang ke-1 di KPK, ke-2 di POLDA, ke-3 di Kejaksaan dan yang ke-4 di DPR, jadi mereka sibuk sekali pak..."
Bapak Presiden kemudian menggeleng-gelengkan kepala karena kagum... Lalu, berbicara kesemua hadirin yang menyertai beliau,
"Meskipun hanya jualan kue, ibu ini bisa menjadikan anaknya sukses dan jujur tidak korupsi... karena kalau mereka korupsi, pasti kehidupan Ibu ini sudah sejahtera dan tinggal dirumah mewah..."
Bpk : "Apa jabatan anak di POLDA, KPK, KEJAKSAAN dan DPR?"
Ibu : "Sama... jualan kue juga..."
Rabu, 28 Agustus 2013
Ayo Ikut Konvensi
Saat ini media tengah sibuk menyoroti para tokoh partai,
pengusaha, akademisi, menteri dan purnawirawan jenderal yang akan mengikuti
konvensi calon presiden. Mereka adalah orang-orang yang merasa dirinya pantas
dan atau dianggap pantas untuk memimpin negeri ini.
Peserta konvensi ini nantinya akan berkampanye untuk
membuktikan kepada masyarakat bahwa merekalah yang paling pantas untuk dipilih.
Jadi sepanjang masa kampanye ini kita akan disuguhkan dengan wajah-wajah yang
penuh senyum, sikap yang ramah, tutur kata yang bijak dan santun, kedekatan dan
keberpihakan pada rakyat kecil serta akan ada demonstrasi kecerdasan dan
pemahaman yang mendalam terhadap permasalahan bangsa.
Andapun kalau merasa pantas, gak perlu ragu untuk ikutan
konvensi. Siapa tahu dewi Fortuna lagi berpihak pada anda, atau tanpa anda sadari
ternyata andalah Satria piningit yang telah lama dinanti-nanti. Memangnya hanya
para tokoh diatas saja yang pantas untuk jadi presiden? Hehehe…
Terus terang saya serius mengajak anda dengan judul tulisan
ini, Ayo Ikut Konvensi. Disinilah kita bisa jujur mengukur diri kita apakah
kita memang pantas atau sekedar merasa pantas untuk jadi pemimpin, pengayom
serta suri tauladan dilingkungan kita.
Lewat konvensi, integritas anda dipertaruhkan. Kesesuaian bicara
dan tindakan anda akan diuji oleh waktu. Seseorang yang hari ini begitu baik,
belum tentu baik dimasa datang, demikian pula sebaliknya, orang yang hari ini
kita anggap buruk belum tentu buruk pada akhirnya.
Ini sih versi saya saja, karena buat saya hidup ini adalah
konvensi. Sepanjang hidup kita akan terus ”berkampanye” untuk menjadi pribadi
yang pantas, pribadi yang terpilih baik dalam pandangan manusia terlebih lagi
dalam pandangan Sang Pencipta.
Memang tidak semua orang mau ikut dalam konvensi, karena ini
bukan ajang coba-coba dan pencitraan, tapi kalau anda merasa pantas dan dapat
membuktikan kepantasan itu, ayo ikut konvensi.
Langganan:
Postingan (Atom)


