Rabu, 28 Agustus 2013

Ayo Ikut Konvensi


Saat ini media tengah sibuk menyoroti para tokoh partai, pengusaha, akademisi, menteri dan purnawirawan jenderal yang akan mengikuti konvensi calon presiden. Mereka adalah orang-orang yang merasa dirinya pantas dan atau dianggap pantas untuk memimpin negeri ini. 

Peserta konvensi ini nantinya akan berkampanye untuk membuktikan kepada masyarakat bahwa merekalah yang paling pantas untuk dipilih. Jadi sepanjang masa kampanye ini kita akan disuguhkan dengan wajah-wajah yang penuh senyum, sikap yang ramah, tutur kata yang bijak dan santun, kedekatan dan keberpihakan pada rakyat kecil serta akan ada demonstrasi kecerdasan dan pemahaman yang mendalam terhadap permasalahan bangsa.

Andapun kalau merasa pantas, gak perlu ragu untuk ikutan konvensi. Siapa tahu dewi Fortuna lagi berpihak pada anda, atau tanpa anda sadari ternyata andalah Satria piningit yang telah lama dinanti-nanti. Memangnya hanya para tokoh diatas saja yang pantas untuk jadi presiden? Hehehe…

Terus terang saya serius mengajak anda dengan judul tulisan ini, Ayo Ikut Konvensi. Disinilah kita bisa jujur mengukur diri kita apakah kita memang pantas atau sekedar merasa pantas untuk jadi pemimpin, pengayom serta suri tauladan dilingkungan kita. 

Lewat konvensi, integritas anda dipertaruhkan. Kesesuaian bicara dan tindakan anda akan diuji oleh waktu. Seseorang yang hari ini begitu baik, belum tentu baik dimasa datang, demikian pula sebaliknya, orang yang hari ini kita anggap buruk belum tentu buruk pada akhirnya.

Ini sih versi saya saja, karena buat saya hidup ini adalah konvensi. Sepanjang hidup kita akan terus ”berkampanye” untuk menjadi pribadi yang pantas, pribadi yang terpilih baik dalam pandangan manusia terlebih lagi dalam pandangan Sang Pencipta.

Memang tidak semua orang mau ikut dalam konvensi, karena ini bukan ajang coba-coba dan pencitraan, tapi kalau anda merasa pantas dan dapat membuktikan kepantasan itu, ayo ikut konvensi.

Minggu, 25 Agustus 2013

Kebiasaan Para Juara


Saya berharap tulisan ini dibaca oleh para juara. Dengan harapan mereka mau memberi komentar dengan mengatakan, “hmm…ok, itu memang kebiasaan saya” atau “jangan – jangan yang nulis artikel ini pernah jadi juara, koq dia bisa tahu apa kebiasaan saya” hehehe…

Saya meyakini bahwa orang-orang kebanyakan punya kebiasaan yang tidak dilakukan oleh para juara. Cenderung malas, berpuas diri, takut berkomitmen, kurang inisiatif bukanlah kebiasaan para juara. Ini adalah kebiasaan orang-orang kebanyakan yang sangat mudah kita temui setiap hari dilingkungan kita.

Saya banyak bertemu, eh mungkin anda juga pernah bertemu dengan orang-orang yang tahu tentang kebiasaan para juara namun mereka tidak pernah jadi juara. Mereka tahu pentingnya disiplin, pengorbanan waktu, tenaga dan biaya untuk mengasah keahlian, tapi berpuas diri dengan sekedar tahu untuk jadi bahan obrolan. 

Artinya Apa? Ternyata tidak semua orang mau jadi juara. Pernyataan ini rasanya tidak perlu repot-repot untuk dibuktikan, karena semuanya nampak sangat jelas didepan mata kita.

Para juara adalah mereka secara terbuka atau diam-diam kita puji keahliannya, kualitas pribadinya atau komitmennya yang luar biasa dalam mengejar tujuan. Mereka adalah pribadi yang membangun kebiasaan para juara, berpikir dan bertindak ala juara.

Lhaa..terus apa kebiasaan para juara? Ntar kalau saya ceritakan takutnya anda jadi tahu apa kebiasaan mereka tapi anda sendiri gak pernah jadi juara, hehehe serba salah. Ceritain gak yaa.

Manusia atau Teknologi. Pilih Mana?


Kemarin seorang kawan yang udah lumayan lama gak ketemu, ngajak sarapan di Bintaro tepatnya di 9 Walk. Tempat yang menjual aneka kuliner ini memang enak buat jadi tempat ngobrol pagi-pagi.

Dari obrolan ringan seputar keluarga, kondisi terbaru di Tanah Abang yang sudah bersih dari PKL sampai persoalan Sumber Daya Manusia. Untuk persoalan yang terakhir ini dia mengeluhkan kondisi tempatnya bekerja yang sudah mengucurkan dana ratusan juta untuk upgrade teknologi namun semua sia-sia karena kualitas SDM yang rendah.

Sepertinya hal ini bukan cuma terjadi ditempat kerja kawan saya. Banyak perusahaan lain yang juga menggelontorkan dana yang sangat besar untuk mengadopsi teknologi terkini demi peningkatan kualitas produksi dan pelayanan. Sebagian mungkin berhasil, namun banyak juga yang menjadi mubazir karena tidak mendapatkan dukungan SDM yang juga berkualitas.

Bagi saya, secanggih apapun teknologi, tetap saja dia hanyalah alat yang operasikan oleh manusia. Bisnis pada hakekatnya adalah hubungan saling mempengaruhi antar manusia (pembeli) dan manusia (penjual) dengan menggunakan teknologi sebagai medianya. Dengan teknologi inilah maka diharapkan tercipta efektifitas dan efisiensi dalam berbagai hal yang berkaitan dengan urusan bisnis.

Dalam situasi seperti sekarang ini, kita tidak bisa dengan mudah mengatakan bahwa manusia lebih penting dibanding teknologi atau sebaliknya. Tapi yang pasti saat transaksi berlansung tetap unsur manusia yang menjadi jembatan antara pembeli dan penjual. Yang beli manusia, yang menjual juga manusia. Lain ceritanya kalo kita beli minuman ringan lewat mesin penjual yang make koin..hehehe

Sarapan udah, ngobrol udah, Cuma yang agak mengganggu  adalah harga makanan yang agak mengezuuutkan…hehehe. 2 porsi nasi gurih ditambah 2 porsi lontong sayur plus 4 teh manis seharga 120 ribu, wow….heheheh. Mungkin karena biasa makan dengan menu yang sama di warung deket UIN Cuma bayar 50 ribu dan pulang dengan perut kenyang. (STOP Jadi Orang Kebanyakan)

Rabu, 21 Agustus 2013

Bisa Bicara Saja Tidak Cukup


Setiap kita memang bisa berbicara, berkomunikasi dengan orang lain setiap hari lewat bicara. Namun hal ini tidak lantas menjadikan seseorang menjadi seorang komunikator yang handal.

Komunikator yang handal adalah mereka yang tidak merasa puas dengan sekedar bisa berbicara seperti manusia kebanyakan. Mereka adalah orang -orang yang mau berdisiplin untuk meningkatkan kemampuan bicaranya. Sehingga mereka bisa menjadi pribadi yang jauh lebih unggul dibanding orang-orang yang puas dengan sekedar bisa bicara.

Coba perhatikan ditempat kerja, sekolah atau lingkungan tempat anda beraktifitas, anda akan melihat betapa orang-orang dengan kemampuan komunikasi yang lebih baik dan terlatih akan selalu menempati posisi yang menonjol dan mendapatkan peran yang jauh lebih besar dibanding yang lain.

Selain itu coba perhatikan para tokoh besar diseluruh dunia, mereka bukan sekedar memiliki keahlian yang mumpuni tapi juga didukung oleh keahlian dalam mengkomunikasi ide dan keahlian yang mereka kuasai. Para pemimpin yang hebat dan kharismatik adalah mereka yang punya kemampuan komunikasi yang terasah dengan baik, jadi tidak heran bila mereka dicintai dan sekaligus disegani baik oleh kawan maupun lawan.

Hal ini tentunya menjadi satu peringatan bagi kita untuk terus meningkatkan kemampuan komunikasi, baik komunikasi interpersonal, pidato, bernegosiasi maupun presentasi. Sehingga kita menjadi pribadi yang diperhitungkan, dimanapun kita berada.

Berbicara bukanlah sekedar mengeluarkan apa yang anda pikirkan dan rasakan lewat suara dari mulut anda. Tapi melibatkan banyak unsur, baik pengetahuan, mental, hubungan dengan audiens, kebiasaan, budaya dan masih banyak lagi.

Mengikuti berbagai pelatihan komunikasi, belajar dari teman-teman yang menurut anda memiliki kemampuan komunikasi dan berdisiplin untuk mengaplikasikannya, bisa menjadi solusi bagi yang ingin meningkatkan kemampuan komunikasi.

Yakinlah dengan kemampuan komunikasi yang baik, akan sangat membantu anda untuk meraih kualitas hidup yang lebih baik, kapanpun dan dimanapun.

Kamis, 11 Juli 2013

Mau Lebih Maju ? Lihat dulu level Motivasi Anda.


Pernyataan-pernyataan  yang mengatakan bahwa semua orang bisa sukses, success is my right, dan berbagai statemen tentang sukses, tentu saja baik untuk memotivasi. Namun kenyataannya banyak sekali orang yang mendengung-dengungkan statemen ini tapi  tetap saja seolah berjalan ditempat dan sangat lambat kemajuannya.

Kalau kejadian seperti ini juga menimpa anda, ada baiknya anda melihat dulu level respon anda terhadap informasi tentang kesuksesan. Cara anda bereaksi menunjukkan level motivasi anda dan seberapa cepat anda mampu meraih kesuksesan.

Level Tiga
Orang yang berada pada level ini adalah mereka yang selalu harus dicambuk, diancam dan dipaksa dulu sebelum bertindak. Orang-orang di level ini bertipe pasif, diam , menunggu, mereka adalah para penunggu nasib baik. Mereka baru akan termotivasi bila mendapatkan ancaman, baik ancaman kemiskinan, ancaman pemecatan. Sebagian lagi baru termotivasi bila mendapatkan hukuman, baik berupa hukuman fisik maupun hukuman sosial dari lngkungan.

Beberapa ciri yang tampak pada orang dilevel ini adalah, sikap yang kurang percaya diri, pengetahuan yang seadanya, suka bergossip dan mengeluh.

Level Dua
Mereka yang berada di level ini adalah tipe orang-orang yang bergerak atau termovasi karena bujukan atau janji-janji berupa keuntungan materil, kekuasaan dan popularitas. Makin besar janji yang ditawarkan maka makin besar pula semangat mereka terpacu untuk meraihnya.

Bila berhasil meraih apa yang diinginkan maka mereka cenderung euphoria dan berbangga-bangga dengan apa yang diraihnya.  Sebaliknya mereka akan mudah putus asa bila gagal meraih impiannya.

Ciri-ciri mereka yang berada dilevel ini : moody, oportunis dan suka janji-janji.

Level Satu
Pada level ini, adalah mereka yang bergerak atas dorongan dari dirinya sendiri. Maju dan sukses bagi mereka adalah sesuatu yang sudah seharusnya, bukan karena janji-janji ataupun keterpaksaan.

Hidup bagi mereka adalah belajar, berkarya dan berbagi. Tidak mengherankan apabila mereka yang berada pada level inilah yang selalu meraih puncak prestasi sekaligus menjadi inspirasi bagi orang lain.

Peristiwa yang paling sederhana sekalipun yang dialaminya sudah cukup menjadi motivasi untuk melakukan tindakan-tindakan besar. Mereka juga pernah gagal, tapi mereka tidak pernah berhenti dan berputus asa.

Ciri-ciri mereka utama adalah, selalu bersemangat, kuat memegang prinsip, peduli, gemar menambah pengetahuan dan meninggalkan hal-hal yang remeh (tidak penting).  

Nah, anda berada di level yang mana? dengan memahami posisi anda saat ini, akan lebih mudah bagi anda untuk memutuskan apakah anda akan tetap bertahan dilevel itu atau mau berpindah ke level yang lain. Success is your right.